Masjid Tua kebun Jeruk  yang kita maksud adalah Masjid Jami Kebun Jeruk. Itulah namanya. Masjid ini didirikan di kawasan Kebun Jeruk, Glodok, Jakarta Pusat. Tepatnya di jalan Hayam Wuruk nomor 83 Jakarta Pusat . Masjid ini didirikan oleh orang-orang keturunan Cina pada masa penjajahan Belanda.

Menurut cerita dari salah satu pengurus masjid, Nur Iman (70), Masjid Jami Kebun Jeruk  didirikan pada tahun 1786 oleh para peranakan Cina yang tinggal di daerah Glodok. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun oleh mereka.

Banyak sekali versi yang mengatakan tentang sejarah pembangunan masjid. Di antaranya adalah:

 Versi pertama

Masjid Jami Kebun Jeruk  didirikan oleh  para peranakan Cina yang tinggal di kawasan Glodok  karena tidak memiliki masjid sendiri. Pada mulanya, untuk menunaikan ibadahnya, para peranakan Cina tersebut sering menggunakan masjid yang dibangun oleh orang pribumi. Namun, karena kehadiran mereka di masjid pribumi tersebut kerap mendapatkan ejekan dari warga sekitar, para peranakan Cina tersebut akhirnya berinisiatif membangun masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami Kebun Jeruk.

Versi kedua

Masjid Jami Kebun Jeruk  dibangun oleh seorang panglima perang Cina yang beragama Islam. Ketika itu tengah singgah di Kebun Jeruk dari perjalanannya . Sang panglima dan pasukannya yang beragama Islam hendak menunaikan shalat, akhirnya, sang panglima memerintahkan kepada para prajuritnya untuk mendirikan masjid Kebun Jeruk tersebut. Konon usia Masjid ini kurang lebih 223 tahun.

Seiring waktu berjalan, masjid telah mengalami perbaikan dan perluasan. Namun pemberian nama masjid ini karena letaknya yang berada di pinggir jalan Kebun Jeruk, Jakarta Pusat. Dahulu luas masjid ini cuma 7×7 meter, namun sekarang telah mengalami perluasan kira-kira luasnya kurang lebih 3000 meter.

Meski telah mengalami perluasan dan perbaikan, kondisi arsitektur asli masjid, tetap dipertahankan. Salah satu contohnya adalah tetap dipertahankannya warna hijau sebagai warna dinding dari masjid tua tersebut. Ciri khas arsitektur Tionghoa memang sangat nampak dari masjid tersebut. Salah satunya juga dapat dilihat dari kubah masjid yang sangat memperlihatkan arsitektur Cina, yakni bentuk-bentuk lengkung ke dalam yang lazim dijumpai pada atap-atap bangunan Cina umumnya.Hal tersebut, sebagaimana diinstruksikan oleh pihak pemerintah daerah DKI Jakarta, yang telah mengambil alih perawatan masjid tersebut.

 

Di dalam Masjid Jami Kebun Jeruk  terdapat Dua Makam Tionghoa. Tepatnya, di bagian pojok komplek masjid. Menurut  Nur Iman, penghuni makam tersebut masih memiliki tali kerabat dengan para pendiri masjid. Makam itu sendiri saat ini dipagari oleh tembok, sedangkan untuk akses masuk tersedia sebuah pintu besi. Pada batu nisan makam terdapat tulisan Cina, yang menyebutkan nama orang yang dikubur yaitu, Fatimah Hwu, selain itu di batu nisan tersebut juga tertulis angka dalam tulisan Arab yang menyebutkan tahun 1792, angka tersebut, menurut Nur Iman, kemungkinan merupakan tahun meninggal Fatimah Hwu. Sementara nama penghuni makam lainnya tidak dapat diketahui. Pasalnya, batu nisan makam tidak bernama. “Kira-kira tiga tahun kemarin ada warga keturunan (Cina) yang datang menziarahi kuburan itu. Katanya sih masih ada tali keluarga sama yang di kubur (di dalam kubur). Tapi sampai sekarang mereka nggak pernah datang-datang lagi,” ungkapnya.

Kondisi masjid sendiri, menurut Nur Iman, tidak pernah sepi dari jamaah. Setiap harinya ada saja jamaah yang mengunjungi masjid. Para jamaah tersebut, menurutnya, berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri. Di bulan Ramadhan ini, para pengurus masjid menyelenggarakan acara buka puasa dan sahur secara gratis. Karenanya, jumlah jamaah masjid setiap harinya di bulan Ramadhan ini, menurutnya, bisa mencapai 300 orang. “Bahkan Jumat dua minggu yang lalu (jumlah jamaahnya) sampai 3000 orang,” ujarnya.

read more