Masjid Muhammad Cheng Ho yang lebih populer disebut dengan nama
masjid Cheng Ho merupakan masjid yang memiliki keunikan tersendiri karena
bentuk masjidnya berbeda dengan bentuk masjid pada umumnya. Masjid ini
dibangun dengan perpaduan unsur budaya China, budaya Islam dan budaya Jawa
sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho asal China yang
beragama Islam ketika berdagang, menjalin persahabatan dan berdakwah agama
Islam di tanah Jawa. Bentuk masjid Cheng Ho mirip dengan kelenteng (tempat
ibadah agama Tri Dharma) yang warnanya banyak di dominasi oleh warna merah
yang mencerminkan unsur budaya dari China.
Lokasi Masjid Cheng Ho berada di belakang Rumah Sakit Adi Husada dan untuk
menuju ke lokasi masjid Cheng Ho melalui jalan Taman Kusuma Bangsa yang
letaknya didepan HI-TECH Mall.
Masjid Cheng Ho memiliki daya tampung sekitar 200 jama’ah dan berdiri
diatas lahan seluas 21 x 11 meter persegi, sedangkan luas bangunannya
seluas 11 x 9 meter persegi.
Sejak diresmikan 2010 lalu, bangunan ini sudah mencuri perhatian tidak
hanya warga sekitar tetapi juga di dunia maya. Masjid yang terletak di
Padalarang ini masuk 5 besar “Building Of The Year 2010″ oleh National
Frame Building Association. Acara akbar yang melibatkan para arsitek di
seluruh dunia ini menempatkan Masjid Al Irsyad
*religious architecture*. Menurut ArchDaily, situs publikasi arsitektur
terpopuler, Masjid Al Irsyad
Gereja Tampa Covenant, Florida, Amerika serikat.
Jika umumnya masjid memiliki kubah atau menara, tidak dengan Masjid Al
Irsyad
Masjid yang dirancang oleh Ridwan Kamil, arsitek kenamaan Indonesia ini
didesain mirip Ka’bah, berbentuk kubus dengan warna abu-abu. Desainnya
sederhana, tidak banyak ornamen namun tetap memiliki keindahan tersendiri.
Dinding masjid terbuat dari batu bata yang disusun sedemikian rupa sehingga
membentuk celah yang terbaca sebagai dua kalimat syahadat. Selain memiliki
fungsi artistik, lubang-lubang ini juga berfungsi sebagai ventilasi udara.
Menjelang malam ketika lampu di dalam masjid mulai dinyalakan, sinar lampu
akan menerobos celah ventilasi sehingga jika dilihat dari luar tampak
seperti masjid yang memancarkan cahaya berbentuk kalimat syahadat. Sangat
mengagumkan.
Keindahan tidak hanya tampak dari luar masjid. Di dalam masjid terdapat 99
lampu bulat berukir asmaul husna yang jika dinyalakan, cahayanya akan
membentuk siluet nama-nama suci Allah SWT. Terasa sekali kemegahannya.
Masjid Al Irsyad
dimanfaatkan untuk kolam di lantai. Suara gemericik air kolam memberikan
suasana teduh yang dapat menambah ketenangan ketika beribadah. Dinding di
belakang mimbar juga dibiarkan terbuka sehingga jama’ah dapat menikmati
pemandangan Padalarang yang menyegarkan.
Didirikan di atas lahan seluas 1.100 meter persegi, masjid berkapasitas
1.500 jama’ah ini selain menjadi tempat ibadah juga menjadi tujuan wisata
tak hanya bagi para sekitar Bandung dan Jakarta tetapi juga mancanegara.
*8. Masjid Mantingan (1559*)
Masjid Mantingan adalah masjid kuno di desa Mantingan, Kecamatan Tahunan,
Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini dilaporkan didirikan di Kesultanan Demak
pada tahun 1559. Didirikan oleh ubin lantai tinggi ditutup dengan Cina
buatan sendiri, dan juga kereta api-undakannya. Semua didatangkan dari
Makao. bubungan atap Bangunan gaya termasuk China. Dinding luar dan dalam
dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah
tempat imam dan pendeta itu dihiasi dengan relief persegi bergambar
margasatwa, dan penari penari diukir di batu kuning tua. Pengawasan
pekerjaan konstruksi masjid ini tak lain adalah Babah Liem Mo Han. Di dalam
kompleks masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu
Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggono, penguasa terakhir Demak. Selain
itu ada juga makam Waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut sebagai nama
lain Syekh Siti
Jenar.
*7. Masjid Agung Banten (1552-1570)*
Masjid Agung Banten termasuk masjid tua yang penuh nilai sejarah. Setiap
harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tak hanya
dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Masjid Agung Banten terletak di Kompleks bangunan masjid di Desa Banten
Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama
kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan
Demak. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.
Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah adalah atap bangunan
utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China. Ini adalah karya arsitektur
China yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian
menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan
utama.
Di masjid ini juga terdapat komplek makam sultan-sultan Banten serta
keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan
Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara
serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul
Abidin, dan lainnya.
Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi
selatan bangunan inti Masjid Agung. Paviliun dua lantai ini dinamakan
Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno.
Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz
Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat, dan kajian Islami dilakukan
di sini.
Menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid juga dimiliki Masjid Agung
Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata
dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang
lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang
harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu
orang. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di
sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan
laut hanya sekitar 1,5 km.
Dahulu, selain digunakan sebagai tempang mengumandangkan azan, menara yang
juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat
menyimpan senjata.
*6. Masijd Menara Kudus (1549)*
Mesjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al
Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi
atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari
Palestina sebagai batu pertama dan terletak di desa Kauman, kecamatan Kota,
kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki
menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara
budaya Islam dengan budaya
Hindu.
*5. Masjid Sultan Suriansyah (1526)*
Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan
masjid tertua di Kalimantan Selatan. masjid ini dibangun pada masa
pemerintahan Tuan Guru (1526-1550), raja Banjar yang pertama masuk Islam.
Masjid ini terletak di Utara Kecamatan Kesehatan, Banjarmasin Utara,
Banjarmasin, daerah yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan ibukota
Kesultanan Banjar untuk pertama kalinya.
Arsitektur tahap konstruksi dan atap tumpang tindih, merupakan masjid
bergaya tradisional Banjar. gaya masjid tradisional di Banjar mihrabnya
memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan utama. Masjid ini dibangun
di tepi sungai di Kecamatan
Kesehatan.
*4. Masjid Agung Demak (1474*)
Masjid Agung Demak adalah salah satu mesjid yang tertua di Indonesia.
Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini
dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar
agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam
di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini
diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak,
pada sekitar abad ke-15
Masehi.
Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk
memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Tiang ini konon berasal
dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai ‘saka tatal’Bangunan serambi
merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan
tiang yang disebut Saka Majapahit.
Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam
raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah
museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung
Demak.
*3. Masjid Ampel (1421)*
Masjid Ampel adalah sebuah masjid kuno yang berada di bagian utara Kota
Surabaya, Jawa Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel, dan didekatnya
terdapat kompleks Makam Sunan Ampel.
Saat ini Masjid Ampel merupakan salah satu daerah tujuan wisata religi di
Surabaya. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan berarsitektur Tiongkok dan
Arab.
Disamping kiri halaman masjid Ampel, terdapat sebuah sumur yang diyakini
merupakan sumur yang bertuah, biasanya digunakan oleh mereka yang
meyakininnya untuk penguat janji atau
sumpah.
*2. Masjid Wapauwe (1414)*
Masjid ini masih terawat dengan baik.
Kebanyakan bangunan aslinya juga disimpan beberapa benda warisan seperti
drum, tulisan tangan s Alquran ‘, sifat skala batu yang beratnya 2,5 kg,
dan logam hiasan dan membaca huruf arab di dinding. Masjid juga masih
berfungsi sebagai tempat doa arround penduduk.
Jika drum atau beduk dipukuli, maka suaranya akan terdengar sampai seluruh
desa, mengundang orang untuk datang ke masjid untuk
jemaat.
Kitab suci Alquran tulisan tangan di masjid ini pernah dipamerkan di
Festival Istiqlal di Jakarta. Beberapa tambahan baru adalah tempat wudlu,
karpet, kipas dan listrik untuk pencahayaan.
*1. Masjid Saka Tunggal (1288)*
Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kecamatan Wangon dibangun pada
tahun 1288 sebagaimana terukir di Guru Saka (Pilar Utama) masjid. Tapi
dalam membuat masjid ini lebih jelas ditulis dalam buku-buku kiri oleh para
pendiri masjid ini adalah Kyai Mustolih. Tapi buku-buku ini telah hilang
bertahun-tahun yang lalu. Setiap tanggal 27 Rajab diadakan ziarah di masjid
dan membersihkan makam Kyai Jaro Mustolih. Masjid ini terletak ± 30 km dari
kota Purwokerto. Disebut Saka Tunggal untuk membangun tiang yang digunakan
untuk membentuk hanya satu tiang (tunggal). Yang menurut Bp. Sopani salah
satu pengurus masjid adalah bahwa pilar tunggal melambangkan bahwa Allah
adalah hanya satu Allah SWT. Di beberapa tempat terdapat hutan pinus dan
hutan lainnya dihuni oleh ratusan monyet jinak dan ramah, seperti di Sangeh
Bali.
Operator seluler terbesar di Indonesia, Telkomsel, melalui program
corporate social responsibility (CSR), menghadirkan inovasi dalam menyambut
hadirnya bulan suci Ramadhan 1432 H dengan meluncurkan program Online
Masjid Raya. Program ini menghubungkan komunikasi di 99 (sembilan puluh
sembilan) masjid besar di seluruh Indonesia, sekaligus membawa berbagai
aktivitas syiar Islam ke dalam jaringan dakwah digital.
Program Online Masjid Raya ini merupakan inovasi Telkomsel untuk mengelola
alur informasi antar masjid melalui ranah digital. Dengan kemampuan dan
kepeloporan di bidang komunikasi data pita lebar, Telkomsel menghidupkan
fungsi dakwah Islami dalam bentuk media digital, melalui masjid sebagai
pusat jaringan kegiatan umat Islam. OMR Telkomsel ini merupakan program
Sinergy CSR dalam lingkungan Telkom Group.
Menurut Direktur Perencanaan & Pengembangan Telkomsel, Herfini Haryono,
“Melalui Program Online Masjid Raya, Telkomsel mendorong peningkatan
pemahaman dan pengetahuan umat tentang informasi ke-Islaman. Selain itu,
karena konten informasi dikelola secara mandiri oleh jaringan masjid, maka
informasi yang disajikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan jamaah
setempat,” ujarnya.
Jumlah masjid yang ditargetkan online melalui program ini mencapai 99
Masjid Raya dan Masjid Agung di seluruh Indonesia. Pada tahap awal, program
akan diimplementasikan di Pulau Jawa, menyusul selanjutnya ke wilayah
Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
Dalam pelaksanaannya, Program Online Masjid Raya (OMR) ini akan melibatkan
Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) sebagai administrator sistem online dan
Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) yang akan melakukan
pemutakhiran (updating) konten informasi Islami di situs website
www.onlinemasjidraya.com. Karena itu, termasuk dalam kegiatan Program OMR
adalah pelatihan terhadap pengurus dan remaja masjid dalam tata kelola
informasi online.
Berbagai konten informasi yang akan dikelola tersebut meliputi antara lain,
informasi internal masjid yang di antaranya berisi jadwal shalat, jadwal
khatib Jumat, jadwal kegiatan masjid dan informasi internal lain yang
dianggap perlu. Tata kelola pemutakhiran (updating) dan pengunggahan
(uploading) informasi internal ini dilakukan oleh pengurus dan remaja
masjid setempat.
Konten informasi lainnya adalah syiar Islam secara luas, dalam bentuk
artikel, foto ataupun video dakwah. Sedangkan konten berikutnya berupa
informasi terkini yang disampaikan melalui running text. Kedua jenis konten
informasi ini dikelola MTT sebagai operator online bersama dengan JPRMI.
Aplikasi sistem OMR dapat digunakan sebagai media database yang bisa
difungsikan sebagai pendataan secara real time mengenai jumlah anak yatim,
kaum fakir miskin dan kalangan dhuafa di sekitar lokasi masjid raya.
Sehingga memudahkan lembaga amil zakat atau institusi lain dalam
menyalurkan bantuan karena memperoleh data yang akurat.
Seluruh konten informasi ini dapat disimak jamaah masjid melalui layar
televisi LED 32 inci yang diletakkan pada posisi strategis di dalam ruang
utama setiap masjid raya. Dengan begitu, diharapkan aktivitas masjid
sehari-hari akan lebih lengkap dan memudahkan jamaah dalam beribadah selama
Ramadhan, maupun dalam mencari informasi terkini perihal pemahaman
ke-Islaman yang dibutuhkan.
“Program ini merupakan wujud komitmen Telkomsel dalam mendukung berbagai
komponen masyarakat Indonesia secara konsisten dengan memberikan inovasi
terbaik sesuai kebutuhan. Karena Telkomsel memang hadir untuk Indonesia,
Telkomsel Paling Indonesia,” pungkas Herfini.