Masjid Agung Batam-dahulu bernama Masjid Raya Batam Center- adalah satu tempat ibadah yang terdapat di Batam Center. Kemegahan bangunannya membuat masjid ini tampil sangat mencolok. Didirikan tepat berhadapan dengan tulisan raksasa ‘Welcome to Batam”, jelas memperlihatkan bahwa masjid ini memang sengaja dijadikan landmark kawasan tersebut.
Bangunan masjid dirancang dari penggabungan dua bentuk dasar, yakni bentuk balok bujur sangkar sebagai badan bangunan dan limas sama sisi yang teriris tiga bagian sebagai kepala bangunan. Bentuk limas ini memiliki persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas, menyimbolkan hubungan manusia dan penciptanya. Adapun irisan tiga bagian adalah manifestasi perjalanan hidup manusia dalam tiga alam, yakni alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.
Memasuki area masjid, akan terlihat plaza shalat yang menjadi halaman utama masjid. Plaza ini digunakan sbg perluasan ruang masjid pada momentum peribadahan yang menggunakan area luar ruang seperti shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Lepas dari area plaza, ruang luas yang dibatasi oleh selasar akan renyapa. Ruang shalat utama ini terasa sangat lega karena tidak menggunakan tiang penyangga. Di ruangan ini tampak kekayaan nilai arsitektural yang tinggi dengan sentuhan estetika dan karya seni, mulai dari seni kaligrafi, lampu gantung, lampu hias, hingga beraneka ragam hias lainnya.
Seni kaligrafi dapat dilihat di bagian bawah kuncup atap yang terbuat dari tembaga. Kaligrafi di bagian itu bertuliskan Surat Al-Baqarah ayat 153, Al-A’raaf ayat 55, Thaahaa ayat 14, dan Al-An’am ayat 162. Seni khas Timur Tengah ini juga terdapat di bagian dinding mihrab di antara kolom. Di sana terpahat Surat An-Nisaa ayat 103 dan Al Mu’minuun ayat 2.
Pahatan seni kaligrafi ini juga dapat ditemukan di bagian interior sebelah utara dan selatan. Di bagian ini terdapat sapuan kaligrafi 99 sifat Allah yang dikenal sebagai Asma’ul Husna. Selain di tempat tersebut, Asma’ul Husna juga terdapat di bidang barat dalam bentuk kaligrafi kaca patri sebagai pengisi jendela segi delapan dan ornamen di atas mihrab.
Paduan seni estetika dan nilai fungsi juga diterapkan pada penggunaan lampu gantung hias yang terbuat dari tembaga. Lampu yang berjumlah empat unit ini terdiri dari 48 titik lampu pada setiap unitnya. Kesan kokoh namun indah terpancar dari lampu yang bentuknya mengacu pada bentuk esensi masjid tersebut.Bentuk yang mengacu pada bentuk dasar masjid itu juga terlihat pada bagian mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen tembaga. Mimbar ini memiliki tiga buah undakan dengan bentuk kerucut terbalik.
Pesona Masjid Agung Batam Center ini akan lebih terlihat pada malam hari, ketika bias sinar lampu dari dalam masjid menerobos bagian terbuka dari undakan-undakan yang membentuk bagian kepala masjid. Sebuah pemandangan menakjubkan, berpadu indah dengan tulisan raksasa “Welcome to Batam”.

Rotterdam, merupakan salah satu kota di Eropa yang paling ramah bagi muslim. Dengan jumlah presentase 40% dari 585,000 penduduk Rotterdam (data tahun 2009), Rotterdam bukan hanya dipimpin oleh Ahmed Aboutaleb, walikota muslim pertama di Rottherdam, beliau merupakan warga Belanda keturunan Maroko, tetapi telah menjadi kota imigran muslim terbesar di Belanda.
Masjid Essalam Didanai oleh Yayasan Al Maktoum milik Sheikh Hamdan bin Rashid Al Maktoum, Penguasa Dubai dan Deputi Menteri Keuangan UEA, Masjid Essalaam ini membutuhkan waktu sekitar 11 tahun untuk bisa berdiri seanggun seperti sekarang ini.
Sejak awal pembangunannya, yaitu pada tahun 1999 yang ditandai dengan diterbitkannya izin resmi pembangunan beberapa masjid untuk komunitas Muslim di Belanda, tempat ibadah yang mampu menampung 2.600 jamaah ini menghadapi penolakan dan perlawanan dari berbagai pihak, terutama dari kelompok-kelompok anti-imigran dan anti-Islam di Belanda.
Namun itu hanyalah kisah lalu. Kini bangunan yang berdiri di lingkungan imigran di selatan Rotterdam dan berdekatan dengan stadion sepak bola milik klub Fijenoord tersebut telah membuka pintu seluas-luasnya. Tak hanya sekedar menjadi tempat ibadah bagi umat Muslim di Rotterdam saja, namun juga telah menjadi jembatan antara masyarakat Muslim dan seluruh kota, terutama dalam hal budaya dan sosial.
Gaya arsitektur Mameluke yang berkembang di Kairo pada abad 15 merupakan urat nadi desain bangunan Masjid Essalam ini. Bagian dindingnya dilapisi lempengan granit dan memiliki aksen halus warna biru abu-abu, sedangkan menaranya sendiri dibuat dengan inspirasi dari bentuk menara gereja Amsterdam abad ke-17 yang dirancang oleh Hendrick de Keyser. Secara garis besar, Masjid Essalam merupakan contoh sempurna dari apa yang dikenal sebagai fusion architecture, dimana budaya serta identitas Islam dan Rotterdam secara indah tersulam.

yhghg
read more
1. Masjid Samarra Iran
Bentuk khas menara spiral digunakan di masjid-masjid di Irak yang mengadopsi tradisi dalam bangunan menara Mesopotamia. Masjid Samarra Iran dan Masjid Dullaf di Irak yang memiliki menara berbentuk spiral. Bisa dikatakan kedua menara ini sebagai peninggalan arsitektur yang memberikan kesan bahwa perhitungan geometri para arsitek pada masa itu sudah sangat akurat. Kedua menara masjid itu bahkan hingga sekarang masih tegak berdiri walaupun sudah berusia 1.200 tahun. Masjid lain yang juga memiliki menara spiral adalah Masjid Ibnu Tulun di Fustat, Mesir.

2. Menara Masjid Emin
Merupakan Satu-satunya minaret berbentuk oktagonal yang terkemuka terletak di Chefchaouen Cina bernama Emin Minaret yang dibangun pada 1778 oleh Kaisar Qianlong dari Dinasti Qing (1735-1796). Menara ini memiliki tinggi 44 meter (144 kaki) dan merupakan menara masjid tertinggi di Cina.
Menara ini terbuat dari kayu dan batu bata. Modelnya sangat elegan berbentuk melingkar dan meruncing ke bagian atas. Diameter menara seluas 14 meter (46 kaki) di bagian bawah, sedangkan pada atas diamaternya sekitar 2,8 meter.

3. Masjid Agung Xi’an
Menara Masjid Agung Xi’an ini terbilang cukup unik karena menggambarkan arsitektur asli Cina. Menara ini menggabungkan dua fungsi; bulan menonton paviliun dan menara. Eksterior masjid dihiasi dengan ubin kaca biru dan kepala naga. Di dalam, langit-langit yang dicat cerah diukir dengan bunga teratai. Masjid ini dibangun pada masa Dinasti Ming tahun 700-an Hijriyah (1400 Masehi) oleh Laksamana Cheng Ho.

3. Masjid Agung Banten
Masjid ini merupakan masjid tertua di jawa . Masjid yang dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) terletak di sisi alun-alun dan di sebelah utara keraton. Menara Masjid Agung Banten berbentuk mercusuar dengan gaya Eropa yang tampak kurang serasi dengan bangunan masjidnya.
Sblm sbg Menara Masjid menara ini digunakan sebagai menara rambu dan pengintai untuk Pelabuhan Banten yang kerap menjadi sasaran serangan oleh kekuatan-kekuatan Eropa sebagai rival Belanda. Menara ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel, yang bekerja di kota pelabuhan itu pada abad ke-17 M.

Masjid Hassan II Maroko
Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko, tercatat sebagai masjid dengan menara tertinggi di dunia. Menaranya seakan mencakar langit dengan ketinggian mencapai 210 meter. Dirancang oleh arsitektur asal Prancis, Michel Pinseau, masjid ini dibangun oleh Bouyges pada 1980. Setiap malam, di puncak menara, terdapat sinar laser yang mengarah ke Makkah.
Masjid ini memiliki Bangunannya megah dan luas yang menghadap ke perairan Atlantik. Masjid ini berdiri di sebuah semenanjung hasil reklamasi. Pembangunan Masjid Hasan II Maroko terinspirasi oleh ayat Alquran surah Hud [11] ayat 7, “Singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.” Masjid ini bisa menampung lebih dari 30 ribu jamaah.

read more
Inilah permata dari kebudayaan Muslim India. Ada kisah cinta yang agung yang terpancar dari megahnya Taj Mahal. Bangunan yang berdiri pada 1653 setelah 22 tahun dikerjakan merupakan wujud cinta Kaisar Mughal Shah Jahan kepada istrinya yang sudah meninggal. Keagungan Taj Mahal tidak berhenti hanya pada bangunan yang berisi makam permaisuri Shah Jahan. Di sebelah barat berdiri bangun an megah dari batu pasir berwarna merah. Inilah permata kebudayaan Muslim India, Masjid Taj Mahal.
Masjid Taj Mahal melengkapi kemegahan kompleks Taj Mahal. Di sisi timur terdapat pula bangunan yang menyerupai masjid ini, yakni sebuah penginapan bagi tamu kaisar. Kedua bangunan tersebut memberi keseimbangan secara arsitektural bagi kompleks Taj Mahal.
Keberadaan masjid ini membuat kawasan wisata Taj Mahal tutup setiap Jumat. Sebab, shalat jumat merupakan agenda rutin masjid yang memiliki tiga kubah besar berlapis marmer putih. Desain Masjid Taj Mahal cukup mirip dengan masjid lain yang dibangun Shah Jahan, terutama Masjid Jahan Numa atau Masjid Jama di Delhi.
Pesona batu merah terlihat di hampir seluruh interior masjid. Lantainya pun merah dengan bentuk menyerupai sajadah, tepatnya berukuran 569 sajadah. Kaligrafi yang mengagungkan nama Allah terukir di dalam masjid. Masjid Taj Mahal dan peng inapan tamu kaisar memang sangat mirip. Hal yang membedakan hanya mihrab serta mimbar yang tentunya tidak ada pada bangunan bagi tamu kaisar.
Arsitek masjid memi kirkan pula kenyamanan bagi tamu Allah yang hendak beribadah. Di dalam dinding masjid terdapat saluran air yang berfungsi sebagai pendingin. Saluran itu kini sudah tidak difungsikan lagi.
Benteng Agramerupakan Kemegahan Taj Mahal kadang menyapu bangunan yang satu ini. Benteng Agra terletak bersebelahan dengan kompleks Taj Mahal. Ceritanya, benteng ini dibangun oleh kaisar yang paling disegani, Kaisar Akbar sang pendiri Mughal, pada 1565. Ketika Kerajaan Inggris menduduki India, benteng bermenara ini pun dikuasai pasukan Inggris. Sampai sekarang sebagian besar Benteng Agra masuk dalam wilayah kepemilikan angkatan bersenjata India. Turis dilarang menyusuri bagian tersebut.
Bangunan pertama yang bisa dilihat adalah Diwan-e- Aam atau ruangan audiensi publik. Ruangan yang dipersembahkan untuk menjamu tamu negara juga ada di sini. Namanya Diwan-e-Khas. Tempat ini dibangun pada 1635. Di dalamnya terdapat dua singgasana. Singgasana putih terbuat dari marmer dan yang hitam dibuat dari batu. Kaisar Shah Jahan konon kerap duduk di singgasana putih untuk beristirahat, lalu menonton atraksi adu gajah di singgasana batu.

1.Masjid Sangkore, Timbuktu
Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim.
Masjid, sebagai pusat ibadah agama Islam tidak kaku dan harus bergaya seperti wilayah asalnya. Melainkan terjadi asimilasi dengan gaya arsitektur setempat sehingga selain menjadi unik dan berciri khas Ayo brother muslim dan muslimah, makmurkanlah masjid di

2.Masjid Al-Fateh, Bahrain
Masjid Agung Al-Fateh berada di kota Manama, ibukota Bahrain yang di klaim sebagai salah satu masjid dengan ukuran terbesar di dunia, dengan ukuran 6500 meter persegi dan dapat menampung 7000 jemaah sekaligus. Meskipun disebut sebut sebagai salah satu masjid terbesar di dunia, masjid Agung Al-Fateh kalah jauh bila dibandingkan dengan daya tampung Islamic Center Samarinda (Kalimantan Timur) yang memiliki kapasitas hinga 40 ribu jemaah sekaligus.

3.Masjid Bueno Aires, Argentina
Masjid dan komplek Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd atau Centro de Estudios Islamicos King Fahd, di Boenos Aires, Argentina, ini menghadirkan sedikit nuansa Timur Tengah di Argentina, negerinya para penggila sepakbola. Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd dapat dilihat jelas dari lapangan Polo di kawasan Palermo, Boenos Aires, Ibukota Argentina. Menjadi salah satu pusat Islam terbesar di kawasan Amerika Latin.

4.Masjid Badshahi, Pakistan
Bangunan Masjid Badshahi dikelilingi oleh tembok yang berfungsi juga sebagai pagar pembatas antara bagian depan dengan bagian dalam kompleks masjid. Pagar tembok bagian utara masjid dibangun berdekatan dengan tepi Sungai Ravi.
Sementara pagar tembok bagian selatan dibuat simetris dengan tembok bagian utara. Keseluruhan pagar tembok ini terbuat dari material batu kapur yang memiliki lapisan pasir dari batu merah.Terdapat bagian depan kompleks masjid terdapat taman yang asri. Di tengahnya ada makam penyair Islam terkemuka, Allamah Muhammad Iqbal, yang tidak pernah sepi dari para peziarah.
Iqbal inilah yang mencetuskan ide pembentukan negara Islam Pakistan. Sebagai penghargaan, makamnya diukir dengan gaya arsitektur Afghan dan Moor yang dibangun dengan batu merah khusus.
![]()
5.Masjid Europa Point, Gibraltar
Masjid Ibrahim-al-Ibrahim, juga dikenal sebagai Masjid Raja Fahd bin Abdulaziz al-Saud atau Masjid Penjaga Dua Masjid Suci adalah sebuah masjid di ujung selatan Gibraltar, di Europa Point. Bangunan inimerupakan hadiah dari Raja Fahd dari Arab Saudi dan memakan dua tahun untuk membangunnya dengan biaya sekitar £ 5 juta. Diresmikan tanggal 8 Agustus 1997. Sekitar 7% populasi Gibraltar adalah Muslim, dari total 2.000 orang. Komplek masjid juga memiliki sekolah, perpustakaan, dan aula kuliah.

read more
Masjid Qiblatain (artinya masjid dua kiblat) merupakan salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.
Pada permulaan Islam, orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis ( Masjidil Aqsha) di Yerusalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah.
Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah salat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Di tengah salat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144
Setelah turunnya ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara salatnya, kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah (Sumber: dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa) itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.
Tadinya di dekat Masjid Qiblatain terdapat telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar.
Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan.
Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.
![]()
read more